Arti
Sahabat
Ujian sekolah telah tiba, laporan-laporan masih belum
terselesaikan dan sekarang muncul pula masalah yang memusingkan kepala. Pagi
itu dia datang dengan wajah cemberutnya yang membuat aku bingung, heran, kaget,
dan di kepalaku seakan penuh dengan tanda tanya yang seakan memangsa diriku
sampai tak berdaya. Aku hanya bisa terdiam di sebuah bangku sebelah pojok kanan
ruang kelas. Duduk sendiri dan tak ada yang mengajakku bicara. Ya, dia yang
membuatku seperti ini, dia sahabat karibku, sahabat yang selama ini ada di
sampingku, berjuang dan hidup di tempat yang sama, tak jarang kami makan,
bermain, dan belajar bersama. Tapi sedihnya kebersamaan yang indah itu harus
terenggut begitu saja.
Hari-hari kulewati tanpa senyuman dan candaannya. Semakin
lama aku semakin tak kuasa melihat persahabatanku dengannya renggang. Padahal
menurutku tak ada yang salah, kami tetap seperti dulu akrab dan selalu bersama,
dimana-mana berdua, dimana ada aku pasti disitu ada dia. Tapi seketika seolah
ada bencana yang datang menghadang, ombak yang besar menghancurkan sendi-sendi
persahabatan kami, yang ada hanya puing-puing tak berarti. Aku sedih? Iya, aku
sangat sedih! Dalam waktu sekejap persahabatan yang indah itu hancur
berkeping-keping. Wajah manis berubah menakutkan, tak ada kataq yang keluar
dari bibirku dan bibirnya. Bibir itu mengatup ketika melihatku tanpa komando.
Kebahagiaan berubah menjadi kesedihan, kebersamaan berubah
menjadi perpisahan. Meski raga bersatu tapi jiwa terpisah. Sering aku bertanya
dalam hati, kenapa ini bisa terjadi? Mengapa kesedihan ini harus terulang
kembali? Mengapa harus ada kesedihan setelah kesedihan itu pergi? Ah.. semua itu
hanya beberapa pertanyaan yang tak ada jawabannya, pertanyaan hanya
tinggal tanya! Aku tetaplah insan yang lemah yang tak punya daya. Aku tak bisa
mengelak dari bencana itu.
“Ma, besok tugas makalah Biologi kita harus segara
dikumpulkan, tadi saat istirahat Pak Aceng pesan” kataku memberanikan diri
menghampirinya.
Aku sangat ingin hubunganku dengannya bisa kembali seperti
dulu. Itulah kenapa aku mati-matian mengungkapkan sepatah dua patah kata
padanya. Aku tidak peduli dia mau dengar atau tidak, ditanggapi atau tidak pun
aku juga tidak peduli. Biar saja, yang penting tugas dan kewajibanku selesai.
Dia mengangguk sambil bergumam pelan, aku tidak sempat mendengar gumaman itu
karena aku terlanjur mengangkat kaki darisana, aku tak punya daya untuk terus
menopang kaki di tempat itu. Tak ada ucapan terimakasih yang aku dengar dari
bibirnya.
Lambat laun perubahan keadaan persahabatanku itu tercium
juga. Aku ditemui Siska setelah sholat Dhuhur berjamaah di Masjid sekolah.
“Windi, kamu ada masalah apa sih sama Misma? Kok sekarang
agak renggang gitu?” tanyanya sambil mengulurkan tangan besalaman setelah
sholat.
“aku juga nggak tau Sis kenapa bisa jadi begini.” Ujarku
dengan nada sedih.
“awalnya gimana kejadiannya Win?” Siska kembali bertanya.
“awalnya tadi pagi saat aku masuk kelas, Ima seperti
memberiku kesan sinis dan cuek. Aku juga nggak tau kenapa dia bisa seperti itu,
padahal kemarin masih baik-baik saja.” Kataku dengan nada semakin sedih.
“oh gitu, mungkin ini hanya kesalahpahaman biasa. Kamu harus
tetap menyapa dan berbicara padanya, jangan terus-terusan diam seperti ini.
Kamu juga jangan takut dicuekin, itu tantangan bagi kamu, dan kamu pasti bisa.”
Siska menasehatiku.
“iya Sis, makasih ya. Aku akan berusaha agar persahabatanku
bisa kembali seperti dulu lagi.” Ujarku lagi.
Aku menggerakkan bibir sambil membentuknya menjadi
lebih indah, itu senyuman manis yang aku ciptakan. Aku berharap senyuman itu
bisa meluluhkan hatinya. Tapi ternyata senyuman itu tinggal senyuman tak
berarti, senyuman manisku teracuhkan begitu saja, dia melengah tanpa membalas
sedikitpun. Hati menyuruh sabar, sabar, dan tetap sabar. Ya, perjuangan belum
usai! Aku tak boleh menyerah! Aku harus tetap berjuang sampai senyuman manisku
dibalas dengan senyuman yang paling manis.
Esok harinya setelah ujian sekolah usai aku berjalan menuju
tempat parkir sepeda motor. Baru sampai depan kelas kulihat Siska sedang
berbicara empat mata dengan Misma di taman depan. Aku tak tau apa yang sedang
mereka bicarakan, tapi kelihatannya mereka sedang berbicara serius. Ah..
entahlah aku tak tau, aku melanjutkan langkahku ke parkiran sekolah untuk
segera pulang. Aku tak sabar ingin menggeletakkan badanku di atas tempat tidur.
Sesampainya dirumah aku langsung menuju kamar dan
langsung menggeletakkan badanku yang lemas tak berdaya. Tak peduli aku masih
menggunakan putih biru. Rasa lelah, pusing, dan gerah karena sinar
matahari yang sangat terik, tanpa sadar membuat aku tertidur pulas.
Drrrt..drrrt..drrrt.. getaran itu tak asing lagi buatku. Ya,
itu adalah isyarat pesan di handphoneku. Akupun terbangun dan melihat ada pesan
singkat yang menungguku untuk dibuka. Saat itu juga langsung ku buka pesan itu
dengan mata yang masih sedikit menutup. Ah..ternyata pesan dari Siska, ada apa
dengan dia? Ternyata ia menyuruhku datang kerumah Sri. Hmm.. ada apa ya? Kenapa
dia menyuruhku datang kerumah Sri? Tapi ya sudahlah, tidak ada salahnya aku
datang. Aku bergegas mencuci muka agar terlihat segar dan segera mengganti baju
putih biruku dengan celana jeans biru dan kaos putih. Ku lansung kearah rumah Sri.
Sampai di depan rumah Sri kulihat Banyak Sepatu
teman-temanku, ya... kira-kira ada 4 buah pasang. Akupun semakin
penasaran, ada apa sebenarnya. Ku langkahkan kakiku masuk ke ruang tau rumah
Sri. Kulihat ada Siska, Misma, Nindi, Kyla, Nanda, dan tentu sang tuan rumah
(Sri). Suasana saat itu sangat ramai, seperti biasa kami bercanda bersama. Tapi
hanya aku dan Misma yang tak saling bicara, entah mengapa rasa sungkan datang
setiap aku ingin bicara dengannya.
“nah, karena sekarang semua sudah hadir penbahasan kita
mulai.” Ujar Siska bak seorang pemimpin rapat. Aku semakin dibuat bingung
dengan kata-kata Siska.
“maaf, sebenarnya ada apa ini?” tanyaku pelan.
“gini Win, aku sama teman-teman yang lain ga tega liat kamu
sama Misma diem-dieman gini. Apalagi kalian berdua sudah bersahabat cukup lama.
Masak hanya karena salah paham persahabatan kalian jadi berantakan.” Kata Nindi
mengawali pembicaraan.
“iya Ra, aku juga sependapat sama Nindi. Sebelumnya aku
minta maaf kalau selama ini aku cuek dan menghindar sama kamu. Jujur sebenarnya
aku juga ga tega cuek sama kamu apalagi kita sudah bersahabat sejak lama.
Ini memang salahku, aku mengira Nanda tidak suka jika aku bersahabat denganmu,
karena itu aku cuek dan meghindar sama kamu. Tetapi dugaanku salah, ternyata
Nanda hanya memperingatkanku jika kita harus mengurangi bermain dan harus lebih
serius untuk belajar karena akan menghadapi ujian sekolah ini.” Lanjut Misma
dengan nada lirih.
Aku tertegun mendengar perkataan Misma. Aku bingung harus berkata
apa lagi. Matakupun tak lagi sanggup membendung airmata yang akhirnya menetes
dipipiku. Ternyata ini jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku itu, akupun tak
lagi bertanya-tanya tentang hal itu. Semua sudah terjawab! Aku langsung memeluk
Ima dengan erat.
“semoga ini yang terakhir, dan tak akan ada lagi salahpaham
seperti ini.” ujarku ke Misma.
“iya, maafin aku ya. Semoga dengan kejadian ini kita bisa
semakin berpikir lebih dewasa lagi.” kata Misma sembari tersenym.
“iya.” Kataku dengan membalas senyumnya.
Semenjak kejadian itu persahabatanku dengan Misma semakin
membaik. Semua seakan kembali seperti dulu, bahkan sekarang kami bisa
menyelesaikan masalah kami sendiri dan saling membantu satu sama lain.
Karena sahabat adalah orang yang selalu menyiapkan bahunya
ketika kita butuh waktu untuk sekadar melepaskan penat atau bahkan ingin
bersandar meluapkan tangis kesedihan kita. Sahabat adalah orang yang selalu
menyediakan telinganya untuk mendengar celotehan kita. Sahabat juga selalu
menyediakan hatinya untuk selalu lapang terhadap kesalahan-kesalahan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar